Pemicu Kerusuhan di Batam

Jakarta – Kerusuhan meletus di PT Drydocks World, Batam, Kepulauan Riau. Para buruh galangan kapal merasa kesal atas umpatan atasan mereka yang merendahkan martabat bangsa Indonesia.

Namun rusuh itu pecah diperkirakan bukan karena faktor rasa kebangsaan belaka. Diskriminasi di tempat kerja yang memuncak adalah biang kerok.

“Diskriminasi biang dari kebusukan. Itu karena aturan yang diskriminatif dan itu yang harusnya digugat,” kata sosiolog Imam B Prasodjo pada detikcom, Jumat (23/4/2010).

Berikut petikan wawancara lengkap dengan Imam:

Bagaimana Anda melihat munculnya kerusuhan di Batam?

Kalau di Batam itu kaitan dengan mekanisme kerja yang tidak mengindahkan keadilan dan kemanusiaan. Itu dimulai dari sebuah kekerasan kata-kata, dan itu tidak mungkin melebar tanpa ada sebuah proses yang dialami. Mekanisme kerja yang humanis akan memunculkan rasa kenyamanan, dan ini penting.

Kenapa mereka bisa tersulut?

Para pekerja melakukan itu semua tanpa berpikir kemungkinan menghilangkan kelangsungan hidup dirinya karena itu pabrik tempat dia bekerja. Ini karena rasa kemarahan yang timbul sehingga memunculkan ledakan dan perilaku kolektif.

Dalam hubungan sehari-hari ada perbedaan antara pekerja asing dan lokal, sehingga pada saat melampaui batas dan harga diri mereka dihina dengan ucapan seperti itu, tentu itu menyinggung harga diri, dan lebih dari pada itu karena ada perlakuan tidak adil.

Kerusuhan bukan karena rasa kebangsaan?

Orang Indonesia relatif toleran, tapi di saat perusahaan melakukan diskriminasi, seperti halnya zaman Belanda memperlakukan pribumi dan orang timur asing berbeda, artinya ada perlakuan istimewa bagi orang asing. Jadi orang India diperlakukan istimewa oleh manajemen perusahaan, itu akhirnya menimbulkan semangat perjungan dengan melakukan aksi balasan dengan perusakan. Ditambah dengan ucapan hinaan itu, maka bangkit rasa kebangsaan. Mereka kan sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Jadi pemicu adalah adanya diskriminasi?

Faktor biang keladi adalah diskriminasi. Bukan kesalahan orang India, tetapi ada faktor lain. Perlakuan perusahaan pekerja asing lainnya berbeda di tengah pekerja Indonesia seperti mengulang pada zaman Belanda dahulu.

Jadi sikap diskriminatif biang dari kebusukan. Yang harus diberantas aturan yang diskriminatif dan itu harusnya digugat

Setelah bentrok terjadi, bagaimana cara menanganinya?

Menjalin komunikasi dengan baik, bagaimana sekadar menghindari kata-kata kasar. Dan yang lebih dalam menata kembali menata hubungan kerja. Indonesia ada warisan budaya, ada kecenderungan ingin belajar dari bangsa lain untuk memanfaatkan kelebihan orang lain.

Kita bangsa yang welcome, yang harus diubah perlakuan diskriminatif. Banyak orang India atau ekspatriat yang baik yang kemudian menjadi korban. Ini semua karena aturan diksriminatif.

(ndr/ndr)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s